{"id":172,"date":"2010-05-17T16:26:17","date_gmt":"2010-05-17T09:26:17","guid":{"rendered":"http:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/?p=172"},"modified":"2010-05-17T19:27:30","modified_gmt":"2010-05-17T12:27:30","slug":"kunjungan-pertama-ke-pati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/?p=172","title":{"rendered":"Kunjungan Pertama ke Pati"},"content":{"rendered":"<p>oleh Ferdiansyah Thajib<\/p>\n<div id=\"attachment_173\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/wp-content\/uploads\/2010\/05\/29907_1452880530605_1491049470_1173427_2007131_n.jpg\"><img aria-describedby=\"caption-attachment-173\" loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-173\" title=\"29907_1452880530605_1491049470_1173427_2007131_n\" src=\"http:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/wp-content\/uploads\/2010\/05\/29907_1452880530605_1491049470_1173427_2007131_n-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/wp-content\/uploads\/2010\/05\/29907_1452880530605_1491049470_1173427_2007131_n-300x225.jpg 300w, https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/wp-content\/uploads\/2010\/05\/29907_1452880530605_1491049470_1173427_2007131_n.jpg 720w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-173\" class=\"wp-caption-text\">Salah satu mural di Kota Pati, Foto: Antariksa<\/p><\/div>\n<p>Melewati kota Semarang, <em>travel<\/em> tujuan Pati yang saya tumpangi singgah beberapa kali di kota antara seperti \u00a0Demak dan Kudus. Tampaknya saya masih menjadi satu-satunya penumpang di <em>shuttle bus <\/em>bobrok ini pada malam Selasa 11 Mei 2010 selain satu bagasi penuh paket-paket yang harus diantarkan ke alamat-alamat di kota-kota yang barusan saya sebut.\u00a0 Perhatian saya di sepanjang jam-jam terakhir perjalanan selama kurang lebih 6 jam tersebut tersita pada Alun-alun di beberapa kota Utara pulau Jawa tersebut sambil membanding-bandingkannya dengan Alun-alun Yogyakarta. Lebih karena kebiasaan yang saya kembangkan sejak terlibat di <a href=\"http:\/\/space.kunci.or.id\/\" target=\"_blank\">Space\/Scape Project<\/a>, saya kira.<\/p>\n<p>Perjalanan memasuki wilayah kabupaten Pati ditandai dengan baliho-baliho bertajuk Kios Dua Kelinci Bertanduk yang membimbing para pelintas Jalan Raya Pati-Kudus dengan informasi \u00a0berapa jarak yang masih perlu ditempuh untuk mencapai Pati Bumi Mina Tani. <em>8km menuju tempat bermain dua kelinci bertanduk<\/em>,<em> 4km lg, 2km lagi, 1 km lagi, <\/em>dan\u00a0 kemudian\u00a0 tampak berdiri sebuah\u00a0 kios megah (jika dibandingkan dengan bangunan lain di sekitar)di depan pabrik Kacang Dua Kelinci. Kios ini menjual produk oleh-oleh \u201ckhas\u201d berupa kacang-kacangan, pilus, minuman instan dan makanan dalam kemasan lainnya. Di sana pula orang bisa melihat pajangan dua kelinci bertanduk (<em>jackalope<\/em>) yang diawetkan, hewan yang hidup di Amerika dan dianggap imajiner.<\/p>\n<p>Sebagaimana sudah diketahui luas, Pati merupakan basis lokasi produksi bagi industri kacang seperti Garuda Food dan Dua Kelinci. Sumbangan kedua industri ini pada lapangan pekerjaan dan sektor ekonomi daerah mestinya tidak kecil. Kesan itu setidaknya saya tangkap dari gantungan kunci penginapan yang saya huni selama kunjungan, dengan brand Kacang Dua Kelinci sebagai sponsor utama.<\/p>\n<p>Semakin mendekati kota, pemandangan malam \u00a0berupa kegelapan di atas sawah yang menyelingi rumah-rumah penduduk semakin tergantikan dengan \u00a0bangunan-bangunan karaoke yang kian \u00a0merapat, mulai dari yang paling remang-remang sampai yang gemerlapan. Maraknya karaoke ini menjadi penanda lain yang membedakan, setidaknya, dengan kota-kota yang saya jumpai sebelumnya.<\/p>\n<p>\u201cFenomena karaoke ini mulai ramai mengisi perbincangan publik di Pati sejak lima tahun belakangan, tahun 2005\u201d, demikian ujar Agung, salah satu warga yang saya jumpai di hari-hari pertama saya singgah di kota Pati.\u00a0 Terkait dengan karaoke, isu prostitusi terselubung yang diberlangsungkan di ruang-ruang ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian pemangku kepentingan<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a>, di mana para pemandu karaoke (PK) dianggap menodai citra Pati. \u201cTapi 70% dari para PK itu datang dari luar Pati, kebanyakan dari Jepara dan Kudus,\u201d Agung yang aktif mendampingi para pekerja seks komersil lokal ini menjelaskan. Ia juga menambahkan bahwa ramainya karaoke di kabupaten ini, -termasuk juga di pedesaan,\u00a0 banyak dipengaruhi dengan tingginya permintaan klien yang datang dari\u00a0 kedua kota yang berlokasi \u00a0di Barat dan Timur kota Pati tersebut, \u201cSoalnya pemerintah kabupaten Kudus dan Jepara tidak memberikan ijin pendirian hiburan malam, karena pemerintah lokal sini lebih lunak,\u00a0 maka pasar pun terbentuk, -terutama untuk komuter Kudus dan Jepara yang haus hiburan malam. Pati Bumi Mina Tani pun jadi Pati Bumi 1000 Karaoke.\u201d<\/p>\n<p>Selain karaoke, hal lain yang cukup menarik perhatian adalah hampir ditemukannya bisnis fotokopi di jalan-jalan yang saya lintasi di Pati. Ketika esok harinya saya melakukan perjalanan ke Tayu (kecamatan yang berlokasi di perbatasan utara wilayah Pati, )misalnya, fa\u00e7ade kota-kota kecamatan yang saya lalui umumnya ditegaskan dengan merapatnya \u00a0bangunan-bangunan \u00a0pemerintahan tingkat kecamatan, pasar tradisional yang kumuh dan rumah-rumah toko (ruko) yang lebih modern (minimalis?) yang diisi oleh warung internet, kios fotokopi, dan yang menjadi topik utama dalam penelitian ini dan akan dibahas secara mendalam dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya, -kios handphone.<\/p>\n<hr size=\"1\" \/><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> Lihat http:\/\/hiburan.kompasiana.com\/group\/gosip\/2010\/01\/09\/pati-kota-karaoke\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh Ferdiansyah Thajib Melewati kota Semarang, travel tujuan Pati yang saya tumpangi singgah beberapa kali di kota antara seperti \u00a0Demak dan Kudus. Tampaknya saya masih menjadi satu-satunya penumpang di shuttle bus bobrok ini pada malam Selasa 11 Mei 2010 selain satu bagasi penuh paket-paket yang harus diantarkan ke alamat-alamat di kota-kota yang barusan saya sebut.\u00a0 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/172"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=172"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/172\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":179,"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/172\/revisions\/179"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=172"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=172"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kulturcell.kunci.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=172"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}