PATI

Di jalan lagi

oleh Nuraini Juliastuti

Sudah terang bahwa yang akan saya katakan ini bukan sesuatu yang baru: bahwa jalanan sungguh adalah sebuah ruang terbuka dimana penanda-penanda untuk membaca kota–baik potensi maupun kekalahan orang-orang yang ada didalamnya–ditunjukkan dengan gamblang. Mungkin ia baru saya rasakan maknanya sekarang karena akhir-akhir ini saya, tubuh fisik saya, lebih sering berada di jalan, di tempat-tempat yang tidak saya akrabi, di kota-kota lain. Dan baik bagi pendatang baru maupun penghuni lama sebuah kota, jalanan selalu tersedia sebagai ruang yang akan terus menerus dirujuk untuk melihat kota.

Baru kali ini saya ke Pati. Pengetahuan saya tentangnya juga bisa dibilang minim. Yang jelas saya tahu bahwa dua produsen besar kacang kulit–Garuda dan Dua Kelinci–berpusat disini. Angka detilnya saya belum tahu, tetapi pastilah produksi kacang tanah lebih besar dari hasil pertanian lain sampai dua perusahaan diatas punya pabrik disini. Setelah beberapa hari mondar-mandir, saya tahu bahwa ternyata kota ini juga punya dua buah pabrik gula di Tayu dan Trangkil. Beberapa penandanya saya temukan saat berkendara pulang dari Ngemplak (di Kecamatan Margoyoso) ke rumah pondokan kami di belakang alun-alun kota: truk-truk besar lalu-lalang tak henti-henti mengangkut tebu, keluar dari kebun tebu, masuk penampungan khusus untuk disortir dan diolah di pabrik, truk yang mengangkut karung-karung coklat besar–mungkin itu gula yang sudah jadi? (oh, bisa jadi mereka berisi beras, kacang hijau, atau ketela pohon). Saya temui juga beberapa bis kecil mondar-mandir. Diatas motor yang sama-sama melaju kencangnya dengan mereka, agak sulit untuk membaca mereka ini melaju darimana dan hendak kemana. Saya bayangkan didalam perut mereka berdiam para pegawai pabrik gula, sedang akan berangkat kerja.

Berbagi Lagu di Satelit Cell

oleh Syafiatudina

Satelit Cell merupakan salah satu dari beberapa counter handphone di Kios Cendramata, Pati. Satelit Cell sendiri terdiri atas dua kios toko yang terpisah, dengan spesialisasi yang juga berbeda. Kios pertama, dikhususkan untuk penjualan handphone dan software, sedangkan kios kedua untuk servis handphone. Saya mengamati kios Satelit Cell yang khusus untuk penjualan handphone dan software, selama dua hari berturut-turut, mulai tanggal 25 hingga 26 Juni 2010.

Satelit Cell dilengkapi dengan koneksi internet. Jika ada yang ingin meminta lagu maka akan dicarikan lewat Google. Tapi selama observasi, momen pencarian lagu lewat Google hanya terjadi dua kali. Lebih banyak kesempatan di mana lagu yang dicari, sudah ada di database milik Satelit Cell.

Layanan “pengkopian lagu” ini memang merupakan andalan dari Satelit Cell. Menurut Ardi, salah satu  penjaga counter, setiap jam pulang sekolah, counter akan ramai karena kehadiran siswa-siswi SMA 1 dan SMA 3 Pati. Siswa-siswi ini datang untuk mengkopi lagu-lagu terbaru yang dimiliki oleh Satelit Cell. Sayangnya pada saat observasi dilakukan, kedua sekolah tersebut dan sekolah-sekolah lainnya di Pati, sedang memasuki musim liburan.

Saya juga tertarik untuk memperhatikan perilaku mendengar musik dari para pengunjung counter Satelit Cell. Ketika saya sedang observasi di hari pertama, seorang remaja laki-laki datang dan meminta Ardi untuk mengkopikan lagu-lagu terbaru. Dia tidak menyebutkan dengan spesifik, artis, judul lagu dan judul album tertentu. Dengan sigap, Ardi langsung mengkopikan seluruh lagu yang ada dalam folder bernama “mp3 new”.

Di lain kesempatan, seorang remaja laki-laki datang juga untuk mengkopi lagu. Berbeda dengan pengunjung pertama, pengunjung kedua ini cenderung pemilih. Dia menyebutkan beberapa musisi yang dia sukai, dan meminta Susanto, salah satu penjaga counter, untuk memberikan mp3 serta merekomendasikan, lagu-lagu baru apa yang kira-kira akan dia sukai.

Baik kedua pengunjung ini maupun pengunjung lainnya yang datang untuk mengkopi lagu, hampir semuanya mengambil lagu dalam bentuk single. Tidak ada yang meminta dalam bentuk satu album lengkap. Saya mencoba mengonfirmasikan hal ini pada Ardi. Menurut Ardi, memang para pengunjung ini hanya meminta single dari musisi yang sering diputar di televisi. Satelit Cell juga hanya menyediakan single-single dari berbagai musisi. Format single ini juga berlaku bagi musik dangdut, house music, keroncong, dan campur sari.

Format album hanya berlaku bagi musisi dan album tempo dulu, misalnya seperti Koes Plus, Ebiet G. Ade, dan sebagainya. Ini juga berlaku pada pengunjung yang menginginkan lagu-lagu tempo dulu. Rata-rata menginginkan dalam bentuk album utuh, bukan hanya single.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana para penjaga Satelit Cell memberi nama pada file-file lagu tersebut. Saya memperhatikan bahwa Satelit Cell menambahkan nama counternya dalam file name lagu-lagu yang dimilikinya. Misalnya seperti Bunga_Citra_Lestari-karena-kucinta-kau[[satellit_cell]]. Menurut Susanto, jika lagu tersebut dikopi dari satu orang ke orang lain, mereka akan tetap tahu bahwa lagu tersebut berasal dari Satellit Cell. Selain itu, penamaan ini dilakukan khusus pada lagu-lagu yang baru saja didownload.

Layanan pengkopian lagu, tidak memiliki tarif yang pasti. Menurut Ardi, tergantung dengan pengunjung. Jika yang dikopi banyak dan memilihnya lama, maka biaya yang dikenakan 15-20 ribu. Sedangkan jika hanya sedikit yang dikopi dan memilihnya cepat, maka biaya yang dikenakan 5-10 ribu. Harga ini juga berlaku pada layanan pengkopian games, aplikasi, video dan theme. Faktor langganan atau tidak pun cukup berpengaruh. Langganan akan mendapatkan harga yang lebih murah, bahkan terkadang gratis, dibandingkan dengan yang baru pertama kali datang.

Seringkali “pengkopian lagu” juga dijadikan sebagai penawaran dalam jual beli handphone. Misalnya, beli handphone Nexian memang lebih mahal daripada IMO atau HT. Tapi jika beli Nexian akan diberi bonus lagu-lagu terbaru.

Yang tersisa 3 jam kemudian

oleh Syafiatudina

Rabu, 23 Juni 2010.
Hari ini, satu-satunya rencana saya adalah pergi ke daerah Karaban, untuk bertemu dengan pemilik counter Antaboga Cell, Bapak Nurhadi. Saya berjanji untuk datang pada pukul 5 sore. Selain janji tersebut, sebenarnya saya tidak punya kegiatan lain.

Jam menunjukkan pukul 11 siang. Saya sudah mandi, membereskan kamar, makan dua nasi bungkus, mendengarkan dua kali album The Life Pursuit, dan masih merasa bosan. Sedikit tidak terima, karena masih siang dan saya sudah merasa ngantuk, maka saya memutuskan untuk pergi ke warnet terdekat. Sebelum menuju warnet, saya memutuskan untuk melewati alun-alun Pati.

Ketika saya sampai di alun-alun, saya merasa agak aneh. Alun-alun Pati yang biasanya sangat bersih di pagi hari, sekarang terlihat agak kotor. Sampah plastik dan kertas bertebaran, khususnya di depan kantor Bupati. Alun-alun pun terlihat sepi. Dua dugaan muncul dalam benak saya. Pertama, petugas kebersihan bangun kesiangan, sehingga terlambat mengangkut sampah pasar kaget di malam sebelumnya. Kedua, hujan plastik-kertas baru saja turun di sekitar alun-alun.

Dan ternyata dua tebakan saya telah salah total. Hari ini, jam 9 pagi, berbagai ormas Islam berunjuk rasa untuk menuntut ditutupnya berbagai tempat hiburan dan karaoke di daerah Pati. Ketika mengitari alun-alun untuk kedua kalinya, saya menemukan berbagai spanduk yang tampaknya merupakan bagian dari demonstrasi tersebut.

Jam 12 siang, para ormas ini meninggalkan alun-alun dan bergerak menuju salah satu tempat karaoke di perbatasan kota Pati, yaitu Las Vegas. Berikut adalah foto-foto spanduk dari aksi unjuk rasa tersebut, yang masih terpasang di alun-alun Pati, hingga jam 12 siang ini. Berita lebih lanjut mengenai aksi ini dapat dilihat lewat link ini.



Situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Lisence BY-SA-NC.
RSS // Ruang Laba