Bersiasat untuk Handphone

oleh Syafiatudina

Pondok Pesantren Mbah Fayomi, terdiri atas dua pondok. Pondok untuk santri laki-laki dan santri perempuan. Pondok ini sudah berdiri cukup lama. Menurut penuturan Bu Fayomi, pondok ini sudah ada semenjak tahun 70an.

Lokasi pondok ini berada di daerah Kajen, kecamatan Margoyoso, Pati. Daerah ini memang dikenal sebagai daerah dengan jumlah pondok pesantren yang cukup banyak.

Pada tanggal 5 Juli 2010, kami mengadakan focus discussion group (FGD) dengan para santri perempuan, di pondok pesantren Mbah Fayomi. Waktu liburan, membuat suasana pondok agak sedikit lengang. Hanya beberapa orang yang masih berada di pondok, itu pun karena madrasah mereka belum libur.

Peserta FGD berjumlah 17 orang, berumur 12-19 tahun. Mayoritas masih bersekolah di sekitar pondok, seperti Madrasah Salafiyah, Mathali’ul Falah, dan SMK Cordova. Hanya tiga orang yang sudah kuliah di Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPBA), juga berada di dekat pondok.

Selama FGD, kami banyak berbicara soal handphone, internet, dan penggunaan teknologi lainnya di kalangan para santri. Seperti mayoritas pondok pesantren yang kami temui di Kajen, pondok Mbah Fayomi juga melarang penggunaan handphone. Santri yang masih duduk di bangku madrasah, tidak diperbolehkan untuk membawa handphone. Handphone hanya diperbolehkan untuk santri yang sudah kuliah. Di pondok santri perempuan, hanya satu orang yang membawa handphone, yaitu Umaida, 19 tahun. Umaida sedang menempuh kuliah di LPBA.

Bagi yang ingin menelpon, dapat menggunakan wartel yang berada di dekat pondok. Handphone milik Umaida dapat dipinjamkan kepada santri lain, hanya untuk keperluan mendesak. Umaida pun berhak mengontrol siapa yang dihubungi oleh para santri, lewat handphone miliknya.

Para santri dapat bebas menggunakan handphone, ketika sampai di rumah masing-masing. Setiap santri memiliki kesempatan pulang ke rumah, satu bulan sekali. Pulang ke rumah menjadi kesempatan bagi para santri untuk menggunakan handphone dan teknologi lain, semaksimal mungkin. Begitu sampai di pondok, maka mereka harus patuh dengan peraturan yang berlaku.

Peraturan di pondok Mbah Fayomi, memberlakukan sistem poin. Setiap santri memiliki sejumlah poin. Poin-poin milik santri tersebut akan berkurang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Membawa handphone adalah jenis pelanggaran dengan minus poin terbesar. Jika seorang santri ketahuan membawa handphone, maka poin miliknya akan habis. Dan santri dengan poin 0 akan dikeluarkan dari pondok. Menurut Wafi, 17, bagian keamanan pondok, dengan berlakunya sistem ini, maka bukan handphone yang mengeluarkan santri, namun peraturan.

Dengan peraturan semacam ini, maka santri yang ingin membawa handphone ke pondok, harus membuat semcam siasat agar tidak ketahuan. Banyak trik-trik menyembunyikan handphone yang telah dikenali oleh para santri ini. Menurut Nada, 14, pernah ada santri yang menaruh handphone di sela-sela lubang dekat atap. Handphone dibalut dengan kaos. Persembunyian terbongkar oleh Nada, karena kebetulan kaos yang digunakan untuk membalut handphone adalah kaos milik Nada.

Posisi Wafi sebagai bagian keamanan pondok, membuatnya cukup hapal dengan siasat-siasat penyembunyian handphone. Lemari dan di bawah bantal adalah tempat-tempat paling umum untuk menyembunyikan handphone. Tapi menurut Nada, tempat paling aman untuk menyembunyikan handphone adalah di dalam pakaian.

Peraturan yang cukup ketat mengenai handphone, membuat beberapa santri memutuskan untuk keluar. Ketika ditanya soal pendapat mengenai peraturan tersebut, mayoritas santri menyatakan hanya bisa pasrah. Bagi mereka, peraturan soal handphone adalah hal yang harus diterima ketika sudah memutuskan untuk tinggal di pondok. Menurut Wafi, peraturan semacam ini dapat menjaga para santri dari gangguan yang dapat ditimbulkan oleh handphone. Handphone, menurut Wafi, dapat menganggu konsentrasi belajar dan sering digunakan untuk pacaran.