Nonton Teater Lewat Layar HP

oleh: Yuli Andari Merdikaningtyas

Sudah hampir setahun saya tidak menonton teater. Terakhir kali, saya menonton “Jejalan” yang diproduksi oleh Teater Garasi di Yogyakarta. Namun,pada malam tanggal 3 Desember 2010,  saya dan Ferdiansyah Thajib menuju Taman Budaya Kota Mataram untuk menonton teater yang diproduksi oleh Teater Kamar Indonesia. “Suatu Salah Paham” naskah Samuel Beckett bercerita tentang dua orang yang bertemu di suatu tempat, yang satu buta dan yang satu pincang. Si Pincang menawarkan kepada Si Buta bagaimana kalau mereka bergabubg dan hidup bersama sampai ajal menjemput. Sebelum pintu ruang pementasan dibuka, kami mengobrol dengan beberapa teman baru tentang perkembangan kesenian di Kota Mataram. Setengah jam sebelum jam pementasan di mulai, Taman Budaya mulai ramai dipadati oleh penggemar teater yang kebanyakan anak muda, kemungkinan besar para mahasiswa.

Setelah masuk ke dalam ruang pertunjukan, saya mencari tempat yang cukup strategis untuk menonton. Di depan saya telah duduk rombongan anak muda yang mulai riuh. Kemudian, lampu mulai dimatikan. Beberapa menit sebelum pementasan teater dimulai, panitia mengumumkan bahwa penggunaan handphone dan lampu blitz kamera foto dilarang selama pertunjukan berlangsung. Selain itu pengumuman berbunyi ” Matikan HP” juga sudah ditempel di pintu luar menuju auditorium. Dengan spontan saya lalu mematikan handphone dan menyimpannya dalam tas. Namun, beberapa anak muda di depan saya tidak mematikan handphone mereka, malah dengan terang-terangan mengeluarkan handphone mereka masing-masing (yang semuanya memiliki kamera) untuk merekam pertunjukan teater tersebut panggung dibuka. Bahkan si pemeran yang ada di atas panggung belum lagi membuka adegannya.

Seorang perempuan berjilbab yang tepat duduk di samping saya tampak serius menonton pementasan teater melalui layar handphone-nya. Dengan serius pula ia merekam ketika kedua tokoh utama sedang berdialog. Kadang-kadang ia menekan tombol zoom-in, zoom out, atau dengan detail melakukan framing terhadap salah satu tokoh yang menurutnya menarik. Selain perempuan tersebut tampak dua lelaki yang juga melakukan hal yang sama. Mereka juga merekam pementasan teater dengan hanphone berkamera yang mereka miliki. Bahkan, kedua lelaki tersebut saling bergantian merekam pementasan teater tersebut. Ketika saya hitung, jumlah handphone yang digunakan untuk merekam pementasan tersebut lebih dari sepuluh buah, setidaknya yang ada di barisan depan.


Saya duduk di barisan ke lima undakan tempat duduk di ruang teater tersebut. Banyaknya penonton yang merekam pementasan teater dengan handphone mereka sesekali mengganggu pandangan saya. Karena tanpa mereka sadari, karena asyik merekam, tangan mereka sering bergerak mengikuti obyek yang ingin mereka rekam sehingga menghalangi pandangan saya ke arah panggung. Tapi tak apalah. Bagi saya yang baru kali ini menyaksikan pementasan teater di Mataram, proses perekaman pementasan teater dengan handphone adalah hal yang menarik. Saya jadi bertanya apa yang membuat mereka memiliki semangat tinggi untuk merekam dan mendokumentasikan pementasan teater ini? Bahkan sampai melanggar tata tertib penonton yang sudah disampaikan panitia sebelum acara dimulai. Beberapa teman yang saya tanya tentang fenomena ini hanya menjawab hal tersebut dilakukan untuk koleksi pribadi, atau sekedar sharing dengan teman lain yang tidak sempat menikmati pementasan teater.

(semua foto oleh Yuli Andari Merdikaningtyas)