BHS SNGKTN D SMS

oleh: Ferdiansyah Thajib

Sebagian dari kita mungkin sudah cukup terbiasa menunjuk fenomena penggunaan bahasa singkatan dalam pengiriman pesan pendek atau SMS dengan istilah bahasa Alay (atau Al4y,  dalam berbagai kombinasi angka, huruf dan simbol yang dimungkinkan oleh teknologi pengetikan digital). Di sini saya sengaja memakai istilah “bahasa singkatan” sebagai judul (baca: Bahasa Singkatan di SMS)  dan bukan “bahasa Alay”  karena berbagai alasan yang akan saya uraikan di tubuh tulisan ini. Pada gilirannya topik bahasa Alay sendiri menjadi satu dari banyak jalan masuk yang saya pakai untuk memaknai gejala penggunaan bahasa digital di Indonesia secara lebih dalam, khususnya melalui teknologi telepon genggam.

Belum berapa lama  milis KUNCI-L di yahoogroups sempat diramaikan dengan silang pendapat mengenai fenomena Alay di Indonesia. Diskusi bermula dari surat elektronik seorang anggota milis KUNCI, yang waktu itu menyatakan niatnya untuk mengangkat fenomena Alay sebagai topik skripsinya, sekaligus meminta masukan dari segenap anggota milis lain mengenai isu tersebut. Dalam kurun waktu tersebut pula berbagai media mulai marak memberitakan fenomena Alay, dari yang sifatnya deskriptif, investigatif, sampai dengan sarkastis.

Alay hadir dan bergulir sebagai wacana dalam berbagai forum,  dan terus berkembang  dengan diciptakannya  istilah-istilah lain seperti “Ababil” (ABG- [Anak Baru Gede] Labil)  dan seterusnya. Substansi perdebatan di seputar Alay umumnya menunjuk pada persoalan budaya anak muda, isu kelas dan gengsi, pilihan gaya pakaian, dandanan dan potongan rambut, selera musik, dan yang terakhir yang cukup menonjol dan akan saya coba uraikan di sini adalah masalah bahasa tulis yang dipakai kalangan ini di media digital, baik itu di internet (situs jejaring sosial, blogging, forum diskusi online), handphone, maupun dalam media televisi yang sudah berkonvegensi dengan internet dan handphone (seperti penayangan pesan-pesan via sms/ surel di layar kaca melalui animasi grafik maupun rolling text).

Alay, singkatan dari “Anak Layangan” (?) merupakan stereotip yang dilekatkan pada anak-anak muda yang semakin sering kita jumpai lewat media konvergensi  maupun kenyataan sehari-hari dalam konotasi yang kampungan, sok gaul, murahan, dan konyol. Dalam konteks bahasa, pada saat yang bersamaan, beberapa amatan mencoba menariknya sampai ke sebuah bentuk perlawanan terhadap budaya arus utama dan penggunaan bahasa resmi. Penjelasan tersebut ditarik dari bagian dari gejala sejarah yang lebih panjang dalam perkembangan bahasa prokem atau slang di Indonesia yang selalu berkembang subur di hadapan kekuasaan. Amatan lain (mataharitia, komunikasi via milis KUNCI-l, tanggal 30 April 2010 ) juga mendudukkan gejala ini pada bagian dari ekspresi budaya, sekaligus pembentukan identitas, keanak-mudaan itu sendiri, – atau menurut istilah Mataharitia, mengutip Thorstein Veblen dengan “the conspicuous society”-nya  sebagai kesenangan dalam konsumsi media. Satu hal yang tidak luput dimaknai dalam ragam pengamatan di atas adalah peran penting percepatan teknologi media itu sendiri yang memungkinkan tampilan-tampilan teks seperti di gambar-gambar berikut ini.

Subyek Modernitas yang Gagal

Berpijak pada narasi ulang-alik bahasa Alay ini saya mencoba (lagi) memeriksa catatan di lapangan dalam proyek KulturCell ini. Bentuk-bentuk pesan pendek seperti yang tertera di atas dan banyak lagi kerap  saya jumpai dalam penelitian di Lombok ini, khususnya datang dari berbagai narasumber yang tersebar di beberapa kabupaten, baik muda maupun dewasa. Di awal kunjungan,  saya sempat sibuk bertanya ke orang-orang di sekitar saya untuk memastikan isi pesan yang kerap disampaikan dalam bahasa singkatan atau bahkan simbol seperti “ge” untuk lagi, “x” untuk “nya”, tw untuk tahu, “w” untuk gue, “Q” untuk aku dan seterusnya.

Dalam wacana Alay, penggunaan bahasa ini segera dirangkum ke dalam stereotip yang menegaskan tentang praktik berbahasa khas warga  bukan kota (baca: kampungan) dalam media digital. Dan pernyataan ini semakin dikuatkan dengan letak geografis pulau Lombok yang berjauhan dengan pusat-pusat kota Jawa. Menjadi tidak mengkota sama sekali ketika si pengirim pesan menggunakan  singkatan atau simbol yang tidak jamak digunakan dalam bahasa tulis sehari-hari. Meskipun pada yang bersamaan ada beberapa penggunaan kata singkatan yang masih bisa dimaklumi penggunaannya seperti akronim “yg” untuk yang , “dgn”  untuk dengan, angka 2 untuk pengulangan seperti dalam kata “teman2” untuk teman-teman, atau bahkan  huruf n (dari kata bahasa Inggris “and”)  untuk menyingkat “dan”.

Persoalan menjadi lebih pelik karena ternyata selain penggunaan singkatan untuk penulisan bahasa Indonesia dan beberapa istilah Inggris, dalam komunikasi SMS sehari-hari warga  juga tidak segan menyingkat bahasa lokal, seperti bahasa Sasak.  Seiring dengan mengikisnya jarak di antara  saya seabagai periset dari Jawa dan para narasumber, saya semakin tidak sungkan untuk menanyakan ulang beberapa singkatan yang tidak saya pahami, karena khawatir kalau kata tersebut berasal dari bahasa lokal yang memang tidak saya kuasai. Beberapa pengirim  juga tidak segan  untuk mengirimkan kepanjangan kata-kata yang mereka singkat di sms sebelumnya jika saya periksa ulang.

Suatu waktu  saya menanyakan Ghazali (25 tahun), salah satu narasumber yang aktif di komunitas anak muda di desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara dan kerap bertukar pesan dengan saya via SMS dengan kata-kata yang disingkat, apakah ia pernah mendengar istilah Alay. Ia pun malah bertanya balik kepada saya, “Apa itu Alay?” Setelah saya menjelaskan sependek pemahaman saya tentang istilah tersebut, ia pun hanya mengatakan “ Oh, iya saya pernah melihat berita ramai membahas itu di televisi”.  Alay bagi Ghazali tidak hadir di sekitarnya, melainkan di berita media.

Temuan ini saya angkat untuk menunjuk bagaimana wacana Alay dapat dibaca sebagai bentuk imposisi urban atas rural, lewat eksternalitas (baca: tuntutan penauladanan) gaya dan nilai yang keren (modern) versus kampungan (gagal modern). Tanpa merujuk dengan jelas pada batasan geografis yang dimaksud sebagai “kampungan” (seseorang yang tinggal di desa bisa saja menganggap orang lain yang tinggal di desa yang sama sebagai “kampungan”),  istilah ini dikenakan oleh subyektifitas yang mengidentifikasi dirinya dengan nilai-nilai perkotaan (modern, kosmopolitan) kepada mereka yang “berupaya menjadi” modern namun gagal.

Usaha  menjadi modern ini ditakdirkan untuk gagal, -sebagai kampungan, karena  konstruk modernitas kini  hadir sebagai suatu kesertamertaan; sebuah paket nilai yang terlanjur ditubuhkan  dan  dijiwai  serta ditandai oleh  hirarki kelas,  kemudahan akses terhadap (produk dan pusat) pembangunan, tingkat percepatan budaya, frekuensi migrasi global, dan kesempatan ekonomi warga kota kelas menengah atas di atas yang liyan.  Gejala Alay lahir dalam perjalanan subyektivitas, dari yang “tidak modern” menuju “modern”, dan ditakdirkan untuk tidak pernah tuntas. Dengan kata lain, kegagalan Alay menjadi Modern dianggap sebagai suatu keniscayaan, karena sejatinya Modernitas adalah sesuatu yang diberikan, bukan diupayakan.

Renggang dan Rapatnya Komunikasi Antar Generasi

Tulisan yang disingkat-singkat dalam layanan pesan pendek juga mencetuskan soal baru dalam komunikasi lintas generasi. Penggunaan bahasa seperti ini melanggar etika dan rambu-rambu komunikasi sosial yang membatasi, terutama, hubungan lintas generasi (anak dan orang tua) dan hirarki formal (murid dengan guru, bawahan dengan atasan) dalam bahasa lisan maupun tulisan sehari-hari.

Beberapa narasumber yang bekerja sebagai guru atau dosen mengeluhkan tentang betapa tidak sopannya cara  siswa-siswa mereka menuliskan pesan via SMS akibat penggunaan singkatan. Batasan formal yang dibentuk oleh norma sosial tampaknya dilabrak oleh budaya berbahasa yang yang dihadirkan dalam komunikasi digital. Lebih jauh lagi, keefektifan komunikasi di ruang ini juga menjadi terancam ketika beberapa orang tua, misalnya, mengaku sering tidak memahami pesan dalam bentuk singkatan yang mereka terima dari anggota keluarga yang lebih muda, seperti anak atau kemenakan.

Di Indramayu, Elina yang sehari-harinya berjualan pulsa elektronik untuk para tetangganya kini punya tugas tambahan. Dalam satu kesempatan, perbincangan kami dengan Elina terpotong ketika salah seorang tetangganya memanggil dan mengajaknya melakukan sesuatu. Sekembali dari rumah tetangganya tersebut, Elina bercerita:

“Iya jadi saya diminta untuk membacakan (baca: menerjemahkan) SMS yang barusan Pak A terima dari Pak B. Karena bahasanya singkat-singkat, Pak A susah mengerti. Padahal yang dibicarakan soal dagang hasil pertanian mereka ”.

“Lho, berarti Pak B menulis SMS pake bahasa singkat-singkat juga?” tanya kami.

“Jadi Pak B itu juga kayaknya minta tolong ke anaknya atau keponakannya untuk menuliskan SMS, makanya pesannya jadi kata-kata singkatan”, Elina menjelaskan.

SMS sebagai komunikasi yang diperantarai oleh media handphone kini mengalami proses penerjemahan yang cukup panjang karena digunakannya gaya tulis singkatan. Pola komunikasi yang terjadi  adalah:

Komunikator-Pesan- Penulis Kode-Pesan- Komunikan-Pesan-Penafsir Kode-Pesan- Komunikan

Di sisi lain, dalam perjalanan riset ke Lombok saya pun menemukan bahwa kesenjangan komunikasi generasi yang melebar seturut dengan semakin maraknya penggunaan kode digital kembali menjadi rancu, ketika  bunyi pesan SMS yang saya terima dari seorang Kepala Sekolah Menengah Pertama di kabupaten Lombok Utara (usia 42 tahun) dengan kata-kata yang disingkat. Ketika asumsi penggunaan singkatan sebagai bagian dari ekspresi khas generasi muda sekaligus penanda miskomunikasi antar generasi luruh dengan merebaknya apropriasi gaya tesebut ke kalangan pengguna handphone yang sifatnya lintas generasi, maka kode pesan yang disingkat semakin menjadi norma dalam komunikasi yang termediasi secara digital.

Selanjutnya dari stereotipifikasi penggunaan singkatan di SMS sebagai ciri khas  Alay, catatan ini mencoba menarik beberapa temuan di lapangan yang mengarah pada pola-pola yang tidak dapat dijawab jika oposisi biner tersebut menjadi alat analisa. Seperti  pertanyaan tentang mengapa orang suka (kalau bukan cenderung) menuliskan pesannya dalam bentuk singkatan, baik yang umum dipakai maupun tidak, dalam layananan pesan pendek ini? Arsitektur teknologi media seperti apa yang  memungkinkan terbentuknya gejala bahasa ini? Dan pola interaksi apa yang terbentuk antara gejala bahasa singkatan dengan perubahan teknologi itu sendiri? Serta yang lebih mendasar lagi,  budaya komunikasi seperti apa yang terjalin dalam kesingkatan ruang (tulisan) dan waktu (diakronik) yang diperantarai oleh teknologi SMS?

Bahasa sebagai Teknologi Politik Identitas

Melacak penggunaan singkatan dalam bahasa tersurat sehari-hari, Jalaluddin Rakhmat (1996: 53) mencatat tentang bagaimana pada Orde Baru kita menyaksikan penggunaan singkatan yang “aneh” seperti ipoleksosbud, siskamling, hankamrata, juklat, jurdil. Menurutnya singkatan itu menunjukkan dengan jelas pengaruh ABRI. Ini dapat dibaca sebagai kelanjutan pola Orde Lama, di mana elit kekuasaan masa itu melahirkan akronim-akronim seperti “Nekolim”, “Manipol-Usdek”, “Nasakom” dan seterusnya. Dengan kata lain, singkatan di sini menjadi perangkat kekuasaan untuk menguatkan cengkramannya pada realitas politik yang berlaku.

Penggunaan sandi dan istilah, termasuk yang berupa akronim dan singkatan juga dapat dijumpai melalui beragam versi bahasa komunikasi tergantung pada komunitas pemakainya. Bahasa informal yang dikenal sebagai “slang” atau “lingo” ini menempuh daur perkembangan yang saling bertaut satu sama lain, pertengahan 1970′an sampai dengan 1980′an anak muda perkotaan menggunakan bahasa prokem sebagai bagian dari gaya hidup yang diwarnai dengan bentuk-bentuk apropriasi fesyen, selera musik dan pencitraan barat. Praktik ini kemudian juga menyebar di kota-kota daerah seperti di Malang, Jawa Timur yang menggunakan bahasa balik (asahab kilab) berikut dengan persenyawaannya dengan bahasa-bahasa daerah. Demikian juga dengan bahasa plesetan di Yogya karta dan Jawa Tengah, yang masih kerap dijumpai dalam benda-benda komunikatif seperti sablon kaos Dagadu dan stiker. Sedangkan di kalangan gay dan waria Indonesia, muncul berbagai kosa kata “aneh” yang dikenal sebagai bahasa binan (bahasa banci) yang kemudian diapropriasi oleh media dan dipakai oleh banyak selebriti, sehingga ia berkembang menjadi bahasa gaul, dan sempat sampai dibuat kamusnya oleh Debby Sahertian. Gejala “kekacauan” bahasa yang pada awalnya dilahirkan secara bermain-main di ruang-ruang kota mengalami pembesaran sedemikian rupa hingga ia hadir sebagai bagian dari upaya menciptakan makna baru sekaligus pembangunan identitas dari bahasa Indonesia baku dengan bercermin, sekaligus mengkritik, pada pola komunikasi elit penguasa.

Sementara itu, melompat masuk ke gerakan anak muda Indonesia pasca-1998 yang mendekatkan dirinya pada praktik-praktik DoItYourself (D.I.Y) sebagai bentuk tandingan terhadap kapitalisme global, sempat berkembang pula dalam strategi branding dengan penggunaan singkatan di kalangan pelaku distro. Penjual pakaian melalui distribution outlet (distro) lokal Bandung, misalnya, berkompetisi dengan menggunakan brand-brand singkatan seperti   Ouval Research (RSCH), Firebolt (FRBLT) atau Unkle (Unkl.) sebagai siasat untuk menggenjot pencitraan produk yang mereka jual. Apa hubungan singkatan dan konsumerisme menjadi satu poin lain yang menarik untuk dianalisa secara lebih mendalam di kesempatan yang berbeda.

Dalam kurun waktu yang kurang lebih bersamaan dengan itu, bahasa juga terus bertransformasi ke arah yang berbeda-beda, namun bukan tanpa persinggungannya tersendiri,  seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi. Salah satu yang paling kentara adalah penggunaan sandi seperti  “rojer”, “korek”, “kopi darat” oleh  kalangan pengguna Handy Talkie (HT atau dikenal juga walkie talkie) atau  yang biasa disebut komunitas “Breaker” yang diapropriasi  dari kode universal di dunia penerbangan dan militer.

Di ruang digital, hadir  keasikan yang semakin menguat dalam penggunaan  kode dan singkatan yang “khas”  media komunikasi dan/atau komunitas penggunanya, khususnya dalam bahasa tulis. Hal ini berkembang di media-media chatting seperti MIRC, Yahoo Messenger;  dan anggota forum-forum online seperti Kaskus, dengan berbagai varian yang bisa sama sekaligus berbeda di tiap-tiap media.  Sebagai contoh, simak beberapa kosa kata khas Kaskuser (sebutan untuk pengguna Kaskus) yang saya kutip dari: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6360642 dan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2103343

Cacat = calon cantik
Cendol = reputasi bagus, ditandai dengan kotak kecil berwarna hijau di bawah ID user
Copas = Copy Paste
Delon = Derita Loe Nyet
Gajebo = Gak Jelas Bo
Gan = juragan (bahasa Sunda), panggilan kepada sesama member Kaskus
LOL = Laugh out loud, tertawa terbahak-bahak
LMAO = Laughing My Ass Off, agak mirip seperti LOL
Maho = Manusia Homo, laki-laki/perembuan pecinta sesama jenis
Mikocok = istilah lain Microsoft
Newbie = new member, pangkat terendah dalam Kaskus, dengan jumlah Post 0 – 99
Nubi = istilah lain newbie
Nubitol = istilah lain newbie, newbie tolol.
OC = Ori Cina, barang KW yg hampir sama persis dari aslinya, Ori Copotan (FJB HP)
OOT = Out Of Topic
Polishit = istilah lain oknum polisi
Roy Sukro = Roy Suryo
RS = Roy Suryo
Sukro = istilah lain Roy

Dari kasus bahasa Kaskus, dapat kita cermati beberapa persinggungan dan persenyawaan baru antar bahasa yang lahir dari kosa kota di kalangan komunitas yang berbeda (seperti kata “Bo” atau  “lebay”, dari bahasa gaul- bahasa binan), bahasa asing (“LOL”, “OOT” dst)  atau yang merespon simbol teknologi yang dimungkinkan oleh ruang digital itu sendiri (misalnya “Cendol” merujuk pada aikon avatar di layar, atau istilah “Copas”, “Newbie” dst). Persamaan dan penyeragaman istilah yang bersifat lintas-media juga semakin tidak dapat dihindari seiring dengan konvergensi aplikasi-aplikasi chatting, forum online dan teknologi telepon berinternet yang semakin mudah dikonsumsi.

Analisis Semiotika Singkatan SMS

Jejak-jejak ekspresi singkatan dalam pola komunikasi SMS dapat ditelusuri sampai dengan  alur-alur perkembangan bahasa informal dalam konteks politik identitas, konsumsi pencitraan dan eksperimentasi teknologi.  Sementara itu, pada awal perkembangannya, pola ekspresi di SMS menggunakan singkatan memang dapat dirujuk dua hal yang cukup penting untuk disebut di sini, yakni (1) keterbatasan fungsi teknologi itu sendiri dan (2) beban finansial yang ditanggung pemakai karena relatif masih tingginya biaya pulsa.   Di tahun-tahun pertama merebaknya penggunaan handphone, penulisan SMS masih dibatasi oleh fungsi layar tunggal yang tidak mengijinkan orang berpanjang-panjang dalam menulis pesan.  Pengguna cenderung mengirim pesan yang pendek (satu layar) atau, yang lebih umum,  menggunakan singkatan untuk menghemat pemakaian ruang di layar handphone dan/atau menghemat biaya pengiriman SMS yang dikenakan per jumlah halaman.

Secara berangsur-angsur keterbatasan ganda: teknologis dan finansial ini seharusnya semakin luruh seiring dengan  kompetisi inovasi di dunia manufaktur teknologi handphone maupun industri layanan penyedia telekomunikasi. Kini teknologi handphone memungkinkan penulisan pesan dengan jumlah karakter yang tak terbatas, dan pada saat yang bersamaan   kompetisi reduksi harga di kalangan industri penyedia jasa merajalela: mulai dari hitungan biaya SMS berdasarkan karakter yang dikirim (tidak lagi di hitung per pesan), paket-paket promosi SMS gratis pada jam-jam tertentu,  sampai dengan biaya nol rupiah untuk pengiriman SMS antar sesama pengguna jasa atau bahkan ke pengguna jasa lain.

Penggunaan SMS singkatan sebagai alasan penghematan biaya dan tenaga juga semakin kehilangan dasarnya begitu para produsen handphone memulai perlombaan teknologi fungsi tombol QWERTY. Melalui teknologi ini, pengguna tidak lagi perlu lama-lama menunggu pesan balasan, karena menulis pesan semakin mudah, tanpa harus memencet berulang-ulang tombol yang sama dengan resiko salah ketik.   Alasan penghematan waktu melalui singkatan juga dapat dikaitkan dengan fenomena pemujaan kecepatan (Thajib, 2006) yang menempatkan komunikasi sinkronik (saling balas) dalam waktu cepat sebagai bukti-bukti kemodernan masyarakat. Kebutuhan akan komunikasi yang lebih cepat daripada ketikan jari dan kesegeraan mendapatkan balasan ini bersenyawa dengan kompetisi inovasi teknologi di industri handphone dan perkembangan bahasa tulis yang diperantarainya.

Namun di sisi lain, berbagai kecenderungan inovasi yang maunya semakin memudahkan komunikasi ini tidak serta merta menggerus penggunaan bahasa singkatan di SMS. Pengirim dan penerima SMS mengambil faedah pencanggihan ini dengan tetap bermain-main dengan kombinasi berbagai simbol, huruf, tanda baca dan angka, dalam versi besar kecil, yang tersedia dalam fungsi tulisan di handphone. Sepakat dengan Juliastuti (2001), saya melihat adanya kebutuhan untuk mempersonalkan ekpresi individual penggunaan bahasa SMS yang menjadi fokus amatan di tulisan ini. Pengguna cenderung mengabaikan kebutuhan komunikasi sinkronik yang segera, dan menuliskan pesan balasan yang membutuhkan waktu relatif lebih lama demi menyatakan ekspresi pilihannya dan membangun ruang komunikasi yang hangat melalui  sentuhan-sentuhan pribadi di ruang digital yang modern dan dingin dalam  batas-batas yang dimungkinkan oleh fungsi tombol yang tersedia di teknologi handphone itu sendiri. Pola yang demikian dapat dibaca sebagai upaya mengapropriasi komunikasi digital sebagai gaya pribadi, yang tidak harus politis namun hangat, sekaligus memberlangsungkan ketidaksinkronikkan handphone sebagai media komunikasi, yang meskipun tidak diniatkan demikian oleh para produsennya, namun tetap dimungkinkan oleh fungsi perangkat yang ada.

Narasi yang disampaikan Bapak Amir Machmud (65 th.) di Lombok Utara sengaja saya angkat sebagai penutup sementara dari catatan ini. Pembicaraan ini terjadi ketika kami bermalam di rumah Pak Amir dan berkumpul dengan beberapa lelaki kampung Karang Subagan. Waktu  itu kami  tengah membicarakan tentang kesulitan menerjemahkan pesan singkatan di dalam SMS.

Beliau memperlihatkan pesan SMS yang barusan ia terima dari seorang teman kepada kami sambil berkata: “Coba apa ini artinya?”tantang Pak Amir.

Pesan di layar handphone-nya kurang lebih berbunyi demikian:  “bdsk mlm nigh.”

Kami pun menjawab: “Wah, ini SMS bahasa Inggris kali Pak? Atau malah bahasa Sasak?”

Pak Amir : “Ndak tahu, saya juga bingung, saya balas saja SMS-nya dengan menanyakan , ‘Kamu tidak pakai kacamata ya waktu menulis sms?’,”.

SMS balasan dari si pengirim pesan aneh pun datang, dan bunyinya: “Nggih pak, maaf salah ketik, maksud saya BESOK MALAM NGGIH (*nggih : ya dalam bahasa Sasak).

Referensi:

-Juliastuti, Nuraini, (2001) Politik Penciptaan Budaya Handphone, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, belum dipublikasikan.

-Rakhmat, Jalaluddin (1996) “Komunikasi dan Perubahan Politik di Indonesia” dalam Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim (ed.) Mizan Pustaka: Kronik Indonesia Baru. h.49-55

-Thajib, Ferdiansyah (2006) Perlahanan dan Percepatan dalam Ritme Hidup Sehari-hari di Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, belum dipublikasikan.