Melacak Jejak Handphone Dalam Perjalanan Makassar – Polewali Mandar

Oleh Yuli Andari Merdikaningtyas

Saya menyempatkan diri untuk mampir di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dalam rangka penelitian tentang penggunaan handphone kali ini. Beberapa hari sebelumnya saya dan Ferdiansyah Thajib melakukan penelitian yang sama di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa komunitas anak muda yang telah kami wawancarai dan kami ajak diskusi tentang penggunaan handphone antara lain Komunitas Film Rumah Ide, Komunitas Ininnawa (yang terdiri dari peneliti, penulis, dan aktivis) serta Komunitas Blogger di Kota Makassar. Responden utama penelitian tentang penggunaan handphone ini adalah anak muda yang dibagi menjadi tiga fokus utama yaitu: anak muda perkotaan, anak muda dalam komunitas pesantren, dan anak muda yang menjadi buruh migran (juga termasuk keluarga mereka). Waktu penelitian kami yang sangat singkat (30 hari) di Kota Makassar dan sekitarnya membuat kami bersiasat untuk membagi tugas. Ferdiansyah Thajib tetap berada di Makassar, sedangkan saya melakukan perjalanan ke Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Keberangkatan saya ke Polewali Mandar ditemani oleh Atika, fasilitator lapangan Komunitas Payo-Payo yang sedang berproses bersama masyarakat di salah satu desa di kabupaten tersebut untuk mengembangkan gerakan pertanian organik.

Perjalanan darat dari Kota Makassar menuju Polewali Mandar kami tempuh dalam waktu 7 jam, melewati beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan yaitu: Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, dan Pinrang. Kabupaten Pinrang merupakan perbatasan antara Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Setelah melewati Kabupaten Pinrang, kami mulai memasuki Kabupaten Polewali Mandar, kabupaten paling timur Sulawesi Barat. Saya dan Atika mencarter mobil. Selain kami, ada lima orang penumpang lainnya yang juga mencarter mobil tersebut. Mobil carteran kami berangkat pukul 15.30 WITA dan tiba di rumah kenalan kami pada pukul 22.30 WITA.

Ini perjalanan pertama saya ke kabupaten lain di Pulau Sulawesi. Selain Makassar, saya belum pernah mengunjungi kabupaten lainnya sehingga saya sangat tertarik dan menikmati perjalanan ini. Sepanjang perjalanan di Jalan Poros Sulawesi, tanpa rasa ngantuk sedikit pun saya melihat-lihat pemandangan di sisi kanan dan kiri saya. Sejauh mata memandang tampak sawah berselang-seling dengan lautan, sungai, dan deretan rumah panggung yang sangat kokoh dengan tiang-tiang yang tinggi. Melewati Kabupaten Pangkep dan Barru, jalan mulai tidak rata. Banyak air yang tergenang di tengah jalan menyerupai kubangan yang besar. Mobil kami berusaha menghindari kubangan tersebut begitu pula dengan truk fuso, bis antar kota dan mobil dinas pejabat. Rasa pusing mulai muncul karena jalanan tidak rata, namun bentangan perbukitan karts yang indah memanjang diantara Kabupaen Maros – Pangkep cukup membuat rasa pusing dan penat hilang.

Semakin memasuki kota, semakin tampak jelas keramaian dan hiruk pikuk suasana terminal, pasar, dan deretan toko. Lengkap dengan papan-papan reklame rokok, baliho produk seluler, dan iklan layanan masyarakat. Ketika memasuki Kabupaten Polewali Mandar tampak baliho-baliho bakal calon gubernur Sulawesi Barat memenuhi samping kiri dan kanan jalan, terus memadat sampai ke pusat kota. Sebagai orang yang datang dengan misi khusus untuk penelitian handphone, ketertarikan saya pun telah mengarah kepada baliho, spanduk, poster, dan kios-kios produk seluler. Beberapa kios produk seluler berada di depan rumah panggung tampak menyolok dengan warna branding provider tertentu. Ada pula kios yang berada di kolong rumah panggung yang penuh dengan spanduk promosi produk seluler. Sekilas saya bertanya kepada teman seperjalanan tentang provider apa yang paling laris di wilayah ini. Semua hampir menjawab bahwa TELKOMSEL adalah provider yang paling laris. Jawaban mereka seolah-olah terkonfirmasi dengan sendirinya bila melihat warna merah yang mendominasi sepanjang jalan.

Masih tentang handphone, saya mengamati cara pencarian penumpang yang dilakukan oleh sopir mobil carteran yang kami tumpangi. Pak Sopir tampak selalu sibuk dengan handphonenya. Sejak kami meninggalkan terminal Makassar, Pak Sopir tampak menelpon beberapa calon penumpang untuk mengkonfirmasi apakah mereka jadi berangkat atau tidak. Hampir tak ada jeda, handphone itu terus berdering, entah itu SMS atau telpon yang masuk. Sambil menyetir pun ia berusaha berkomunikasi dengan orang yang menelponnya. Sesekali saya mendengar Pak Sopir mengulangi alamat rumah dan jam penjemputan yang diminta oleh seorang penumpang. Di kesempatan lain Pak Sopir minta maaf karena mobilnya sudah penuh penumpang. Rupanya beberapa penumpang yang rutin melakukan perjalanan antara Makassar – Polewali Mandar sudah langganan naik mobil ini. Mereka tak membeli tiket seperti yang dilakukan kalau naik bis. Namun mereka tinggal menelpon ke nomor handphone milik Pak Sopir untuk minta jemput di kediaman mereka. Atika juga melakukan hal yang sama. Sehari sebelum kami ke Polewari Mandar, Atika telah menelpon Pak Sopir dan memesan dua kursi untuk kami. Handphone Pak Sopir kembali berbunyi. Kali ini, seorang penumpang meminta untuk dijemput di Kabupaten Barru, tujuannya ke Polewali Mandar. Pak Sopir menyanggupi permintaan penumpag tersebut lalu meletakkan handphonenya kembali ke dalam saku bajunya. Setelah itu, ia mulai memutar CD audio lagu-lagu Indonesia bercampur dengan lagu daerah Mandar.

Mobil ini sebenarnya mobil pribadi yang difungsikan sebagai kendaraan umum. Plat yang dipakai telah berganti dari plat hitam ke plat kuning (plat mobil angkutan). Cara kerja mobil ini pun hampir sama dengan travel yaitu menjemput dan mengantar penumpang sampai di tempat. Hanya saja, apabila mobil masih kosong, maka Pak Sopir akan terus menaikkan penumpang. Ramainya mobilisasi masyarakat yang melalui jalur Makassar – Polewali Mandar atau sebaliknya membuat kebutuhan transportasi juga semakin meningkat. Saya melihat ada banyak mobil pribadi yang akhirnya difungsikan sebagai mobil carteran. Tidak hanya jalur Makassar – Polewali Mandar, namun juga ada jalur lainnya misalnya Makassar – Sindrap. Ongkos akan ditarik oleh Pak Sopir apabila sudah sampai ditempat. Ongkos Makassar – Polewali Mandar 50 ribu rupiah. Ongkos akan lebih sedikit apabila jarak lebih dekat misalnya penumpang naik dari Barru – Polewali Mandar hanya membayar 30 ribu rupiah. Memasuki Kabupaten Barru, kami menjemput penumpang yang telah menelpon tadi. Kami melewati deretan rumah panggung dengan konsep rumah toko. Beberapa rumah panggung memiliki kios ponsel di kolong rumah. Terdapat beberapa rumah kayu dengan ornamen khas Bugis atau Mandar yang sangat jelas tampak pada bagian atap rumah. Menjelang magrib,  kami memasuki Kota Pare Pare yang jalanannya agak berbukit.


Sesampai di Pinrang pukul 20.00 WITA, mobil kami berhenti di sebuah warung makan. Waktu tersebut dimanfaatkan oleh Pak Sopir dan para penumpang untuk makan, menelpon, maupun membersihkan badan. Pak Sopir dan beberapa penumpang memesan makanan di warung tersebut. Sedangkan beberapa penumpang lainnya tampak sedang asik sendiri-sendiri dengan handphone mereka. Mereka mencari tempat-tempat yang cukup sepi untuk menelpon. Ada yang di pojok toko, dekat warung rokok, ataupun di dalam mobil. Atika juga tampak sibuk dengan handphonenya. Ia menelpon beberapa teman mengabarkan kedatangannya ke Polewali Mandar, termasuk menelpon Suriani, tuan rumah yang akan kami datangi di Desa Bonne-Bonne, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar. Setelah makan malam, mobil kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Kami sampai di Dusun Massanra, Desa Bonne Bonne pada jam 22.30 WITA. Kedatangan kami langsung disambut oleh Suriani, sang pemilik rumah. Begitu sampai di rumah, kami langsung ditawari makan. Suriani adalah Kader Posyandu yang pernah bekerja menjadi TKW ke Saudi Arabia. Namun karena sakit, Suriani bertekad untuk pulang ke Indonesia meskipun kontraknya belum selesai. Saya pun segera akrab dengannya. Saya menceritakan maksud kedatangan saya untuk melakukan penelitian tentang penggunaan handphone. Ia sangat antusias dan segera menceritakan tentang beberapa kisah menarik tentang perkembangan handphone di Desa Bonne Bonne.

Keesokan harinya, kami diajak oleh Suriani untuk mengikuti Musrembang Desa Bone Bonne yang bertempat di Kantor Kepala Desa Bonne Bonne. Musrembang ini bertujuan untuk memilih beberapa program unggulan desa untuk dirumuskan dalam sebuah proposal pengajuan dana untuk pembangunagan fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Acara ini dihadiri oleh beberpa ibu-ibu dari kantor Kecamatan Mapilli sebagai peninjau Musrembang tersebut. Beberapa ibu peninjau tampak sibuk mengutak-atik handphone-nya sebelum acara dimulai. Bahkan ketika semua anggota bermusyawarah yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa pun, masih sesekali terdengar bunyi handphone. Menurut Suriani, kebiasaan ‘tidak serius’ dalam rapat karena sering terganggu suara handphone sudah sejak lama berlangsung. Hampir bersamaan dengan populernya handphone di kalangan masyarakat di desa ini.

Desa Bonne Bonne secara administratif berada di bawah naungan Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Penduduk desa ini berjumlah 1116 jiwa yang terbagi dalam tiga dusun yaitu Dusun Massanra, Dusun Pullipe, dan Dusun Mapilli. Kecamatan Mapilli merupakan kecamatan yang baru dimekarkan. Sebelum terjadi pemekaran, Dusun Massanra masuk dalam wilayah Kecamatan Wonomulyo, kecamatan yang mayoritas penduduknya adalah para transmigran dari Pulau Jawa.

Konon, masyarakat transmigran dari berbagai daerah di Pulau Jawa ini telah berada di wilayah ini sejak tahun 1970-an. Nama Wonomulyo juga berasal dari bahasa Jawa yang berarti hutan yang mulia. Hingga kini, Kecamatan Wonomulyo telah berkembang menjadi pusat keramaian dan distribusi barang bagi desa atau kecamatan yang mengelilinginya. Nama-nama desa lainnya juga mirip dengan nama daerah di Jawa seperti: Sidodadi, Sumberayu, Bumiayu, Kediri, Tulungagung, Sugihwaras, Ponorogo, Yogya Lama, Yogya Baru, Bumi Mulyo, Sumber Rejo, Magelang, Kuningan, dan Cirebon. Hal ini membuktikan bahwa penduduk transmigran ini seakan-akan tetap mengenang daerah asal mereka untuk kemudian melanjutkan kehidupan di daerah perantauan dengan berbaur dengan penduduk lokal dari etnis Mandar dan Bugis. Sebuah gerbang menuju Pasar Wonomulyo bertuliskan “INDAHNYA KEBERSAMAAN” seolah-olah menjadi ungkapan simbolis berbaurnya penduduk etnis Jawa, Mandar, dan Bugis di kecamatan ini.

Selain itu, bahasa Jawa masih digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat transmigran ini. Di pasar Wonomulyo, saya mendengar seorang penjual sedang bertransaksi dengan pembelinya yang sesama orang Jawa  dengan menggunakan bahasa Jawa. Begitu juga para tukang becak yang sedang berbincang sambil menunggu penumpang. Ketika saya membeli jeruk purut untuk bumbu dapur, saya sengaja menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Mandar kepada seorang penjual yang langsung dijawab dengan bahasa Indonesia dengan logat Jawa yang masih kental. Karena penduduk kecamatan ini mayoritas orang Jawa, himbauan untuk membayar Pajak pun memakai bahasa Jawa: Ayo Mas, dipun bayer pajak ‘e, dinggo mbangun daerah’e dewe! (Ayo mas, segera bayar pajak untuk membangun daerah kita!).

Saya juga merasakan nuansa Jawa sangat kental ketika saya mengelilingi kecamatan ini. Apa yang saya rasakan ternyata dibenarkan oleh Suriani. Menurutnya ada tiga hal yang mencirikan Kecamatan Wonomulyo sangat kental nuansa Jawanya. Hal ini dapat dilihat dari: pertama, cara bercocok tanam kebanyakan masyarakat transmigran Jawa di lahan basah (sawah). Para transmigran inilah yang memperkenalkan sawah kepada masyarakat setempat yang sebelumnya bertanam di kebun atau ladang. Meskipun sekarang juga banyak masyarakat lokal yang memiliki atau mengerjakan sawah. Kedua, penataan rumah di desa-desa para transmigran Jawa ini mengikuti pola yang teratur mengikuti mengikuti jalan raya atau gang, sedangkan kecenderungan bentuk pemukiman tidak teratur karena masyarakat lokal mendirikan rumah terlebih dahulu baru membuat jalan yang akan mengikuti arah rumah. Ketiga, masyarakat transmigran Jawa lebih memanfaatkan lahan pekarangan mereka dengan menanam sayur mayur dan tanaman bumbu, sedangkan masyarakat setempat belum seluruhnya memanfaatkan lahan pekarangan.

Jarak Desa Bonne Bonne – Kecamatan Wonomulyo sekitar 2 kilometer yang dapat ditempuh selama 10 menit dengan menggunakan angkot. Semakin memasuki Kecamatan Wonomulyo semakin terlihat jejak keramaian dan kemajuan termasuk didalamnya kemajuan teknologi komunikasi (handphone dan internet). Di sepanjang jalan utama Kecamatan Wonomulto terdapat Kartika Cell, sebuah toko yang cukup lengkap menjual handphone, aksesoris, dan menyediakan layanan perbaikan terhadap handphone. Toko ini cukup populer di kalangan masyarakat Wonomulyo dan sekitarnya karena kelengkapan barang yang dijualnya. Sekilas saya melihat ada banyak type dan merk handphone yang dijual, mulai dari yang bermerk sampai handphone Cina. Selain itu aksesoris handphone memenuhi dinding dalam toko. Tak hanya handphone, lapotop dan notebook juga tersedia di toko ini. Di sekitar Kartika Cell terdapat beberapa konter yang menjual pulsa, juga sebuah warnet yang ramai didatangi oleh para siswa dan anak muda.

Selain itu, terdapat infrastruktur pendukung telekomunikasi berupa dua buah tower yang cukup tinggi di sepanjang jalan antara Kecamatan Wonomulyo – Desa Bonne-Bonne. Tower ini cukup menarik perhatian karena ketinggiannya yang jauh melampaui rumah-rumah panggung di sekitar jalan. Adanya dua tower di sepanjang jalan tersebut diharapkan mampu memperlancar jaringan telekomunikasi penduduk. Namun sayangnya, sinyal masih sering lemah atau kadang timbul tenggelam di daerah tersebut. Handphone tidak hanya dimiliki oleh penduduk Kecamatan Mapilli dan Wonomulyo, namun juga telah dimiliki oleh masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbukitan. Penjualan handphone meningkat pesat setelah musim panen tiba. Hasrat masyarakat untuk memiliki handphone sangat besar meskipun jaringan (sinyal) masih sangat lemah menjangkau daerah pedalaman. Ada sebuah jokes yang beredar di masyarakat setempat tentang pengguna handphone. Konon katanya seorang warga yang baru mengenal handphone pernah minta tolong kepada temannya untuk dibelikan pulsa di kota. Karena merasa sinyal sering timbul tenggelam, si pengguna handphone tadi bilang ke temannya, “Aku nitip beli pulsa sekaligus beli sinyalnya juga…!” (***)